RELEVANSI PEMIMPIN BERHATI HAMBA BAGI GEREJA MASA KINI

Authors

  • Agus Sunardi Sekolah Tinggi Teologi Ekklesia Pontianak

Keywords:

Leader, Servant's Heart, Church, Pemimpin, Hati hamba, Gereja

Abstract

Abstract: A spiritual leader must depend on the authority of the Word of God. The authority of the Word of God must be the most important in the life of a spiritual leader. God's Word is not too complicated to do, if he wants to open his heart and mind and all aspects of his life to the Word of God itself. A spiritual leader who studies the Word of God should want to humble himself as a servant. A new spiritual leader who leads, certainly will not be able to do it with his own strength. He needs to involve the Teacher who gave him the advice. If he wants to open his heart and mind to the presence of the Teacher, then the Teacher will take an action that his disciples cannot do. In discussing further leadership of the theologies of Jesus Christ as a centralized figure in spiritual leadership as in the title of this Journal about "Relevance Of The Leader Of The Prosperous Heart For The Church Of Times". Jesus has done this perfectly. In fact, he can be used as an example to measure simple life. Wealth and popularity are in Him. But He did not do Him. He knows what he must do as a leader who is servant-hearted. And his very simple life illustrates how sincere and humble he is in doing this. As a very young spiritual leader who has long been in the field of service, the pattern of leadership willing to live a simple life can be applied in the lives of spiritual leaders. Inevitably every spiritual leader will be confronted with this. How to respond depends on the leader's heart attitude.

Abstrak: Seorang pemimpin rohani harus bergantung kepada otoritas Firman Allah. Otoritas dari Firman Allah harus dijadikan yang paling utama di dalam kehidupan seorang pemimpin rohani. Firman Allah tidaklah terlalu rumit untuk dilakukan, apabila ia mau terbuka hati dan pikiran serta seluruh aspek hidupnya terhadap Firman Allah itu sendiri. Seorangpemimpin rohani yang belajar Firman Allah sudah selayaknya mau merendahkan dirinya menjadi seorang hamba. Seorang pemimpin rohani yang baru memimpin, tentu tidak akan mampu melakukannya dengan kekuatannya sendiri. la perlu melibatkan Sang Guru yang telah memberikan nasihat itu kepadanya. Jika ia mau membuka hati dan pikirannya kepada kehadiran Sang Guru, maka Sang Guru akan mengambil suatu tindakan yang tidak dapat dilakukan oleh murid-Nya. Dalam mendiskusikan kepempinan lebih lanjut beberapa theologis dari Yesus Kristus sebagai tokoh sentralisasi dalam kepemimpinan rohani seperti dalam judul Jurnal  ini tentang “Relevansi  Pemimpin  Berhati  Hamba Bagi  Gereja  Masa  Kini”. Yesus telah melakukan hal ini dengan sempurna. Bahkan la dapat dijadikan contoh untuk mengukur kehidupan sederhana. Kekayaan dan popularitas ada di dalam diri-Nya. Namun Ia tidak melakukan-Nya. Ia tahu apa yang harus Ia lakukan sebagai seorang pemimpin yang berhati hamba. Dan hidupnya yang sangat sederhana menggambarkan betapa tulus dan rendah hatinya Ia dalam melakukan hal ini. Sebagai seorang pemimpin rohani yang masih sangat muda mau pun sudah lama di dalam ladang pelayanan, pola kepemimpinan bersedia hidup sederhana dapat diterapkan di dalam kehidupan para pemimpin rohani. Mau tidak mau setiap pemimpin rohani akan diperhadapkan pada hal ini. Bagaimana menanggapinya tergantung pada sikap hati dari pemimpin itu.

Downloads

Published

2025-02-25

How to Cite

Sunardi, A. (2025). RELEVANSI PEMIMPIN BERHATI HAMBA BAGI GEREJA MASA KINI. KALEO: Jurnal Penelitian Teologi Dan Pengabdian Masyarakat, 1(1), 20–27. Retrieved from https://ojs.sttekklesiaptk.ac.id/index.php/kaleo/article/view/137